Beberapa hari yang lalu secara tidak
sengaja aku bertemu dengan mama Aisyah di tengah hiruk pikuknya pasar. “ya bint
indunesy” beliau memanggilku dari kejauhan. Aku memanggilnya mama Aisyah, aku
memanggilnya demikian karena dia memiliki seorang putri cantik berusia 6 tahun
bernama Aisyah. Mama Aisyah adalah salah satu tetangga di flat lamaku, namun
sejak pindah ke kawasan Hayyu Sabie aku jarang bertemu dengannya. “keyf hal ya bint ??” dia menanyakan kabarku
ada binar di matanya. “ana kuwaisyah ya mama, keyf hal intum wa baba wa Aisyah
??” aku balik menanyakan kabar keluarganya. Ia tertunduk sejenak “ana kuwaysah
ya bint insya Allah,,” pandangannya menerawang jauh kemudian menghela nafas
seraya melanjutkan kata-katanya “lakin baba wa aisyah syahid fi maydan Rab’ah
imbarih” akhir kalimatnya terdengar lirih nyaris tak terdengar. Ada air mata
menggenangi pelupuk matanya kemudian segera diusapnya. “wallah ya mama ??
innalillahi wa inna ilaihi raji’un”. “ayyuwah ya bint,,”
Ya Rabb, Aisyah kecil gadis periang
nan lucu itu kini telah tiada. Ya Allah, ada sesak di dada ini, mengingat dia
adalah anak kecil yang seharusnya masih bisa menikmati masa bermainnya.
Kemudian mama Aisyah mengajakku singgah ke rumahnya, ia bercerita tentang
kronologi kejadian meninggalnya sang suami dan anak tercintanya. 3 hari sebelum Aisyah meninggal dunia ia
sempat meminta dibelikan gaun pesta berwarna putih pada sang mama. Permintaan
Aisyah dipenuhi oleh babanya, kemudian mereka pergi untuk membeli gaun yang
diinginkan oleh Aisyah. Malam itu Aisyah terlihat bahagia sekali ketika mencoba
gaunnya untuk pertama kali, bahkan ia enggan melepasnya dan tertidur dengan
gaun impiannya.
Rupanya malam itu adalah malam
terakhir Aisyah kecil tertidur dengan tenang di rumahnya. Malam berikutnya ia bersama
kedua orangtuanya bergabung bersama demonstran di lapangan Rabea Adaweya. Dan
pagi itu 14 Agustus 2013, Aisyah kecil menjadi korban dari peluru yang
ditembakkan oleh tentara militer. Ia meninggal dunia dalam dekapan ayahnya yang
juga menjadi korban. Allahummaghfirlahuma,, warhamhuma…
Mama Aisyah tampak begitu tegar
ketika bercerita, ia dengan mantap mengakhiri ceritanya dengan kalimat “ suami
dan putriku sudah menantiku di surga insya Allah” memang ada airmata yang
membasahi pipinya, namun airmata itu juga milikku, aku kehilangan seorang adik
manis nan lucu, masih membekas dalam ingatanku senyuman Aisyah kecil dan
pembawaannya yang riang. Airmataku mengalir semakin deras ketika mama Aisyah
menyodorkan foto terakhir Aisyah kecil ketika sudah berbalut kafan. Wajahnya damai
dan tenang. Selamat jalan Aisyah, selamat jalan adikku,,

Tidak ada komentar:
Posting Komentar