Selasa, 27 Januari 2015

Selamat Jalan Aisyah

Beberapa hari yang lalu secara tidak sengaja aku bertemu dengan mama Aisyah di tengah hiruk pikuknya pasar. “ya bint indunesy” beliau memanggilku dari kejauhan. Aku memanggilnya mama Aisyah, aku memanggilnya demikian karena dia memiliki seorang putri cantik berusia 6 tahun bernama Aisyah. Mama Aisyah adalah salah satu tetangga di flat lamaku, namun sejak pindah ke kawasan Hayyu Sabie aku jarang bertemu dengannya.  “keyf hal ya bint ??” dia menanyakan kabarku ada binar di matanya. “ana kuwaisyah ya mama, keyf hal intum wa baba wa Aisyah ??” aku balik menanyakan kabar keluarganya. Ia tertunduk sejenak “ana kuwaysah ya bint insya Allah,,” pandangannya menerawang jauh kemudian menghela nafas seraya melanjutkan kata-katanya “lakin baba wa aisyah syahid fi maydan Rab’ah imbarih” akhir kalimatnya terdengar lirih nyaris tak terdengar. Ada air mata menggenangi pelupuk matanya kemudian segera diusapnya. “wallah ya mama ?? innalillahi wa inna ilaihi raji’un”. “ayyuwah ya bint,,”
Ya Rabb, Aisyah kecil gadis periang nan lucu itu kini telah tiada. Ya Allah, ada sesak di dada ini, mengingat dia adalah anak kecil yang seharusnya masih bisa menikmati masa bermainnya. Kemudian mama Aisyah mengajakku singgah ke rumahnya, ia bercerita tentang kronologi kejadian meninggalnya sang suami dan anak tercintanya.  3 hari sebelum Aisyah meninggal dunia ia sempat meminta dibelikan gaun pesta berwarna putih pada sang mama. Permintaan Aisyah dipenuhi oleh babanya, kemudian mereka pergi untuk membeli gaun yang diinginkan oleh Aisyah. Malam itu Aisyah terlihat bahagia sekali ketika mencoba gaunnya untuk pertama kali, bahkan ia enggan melepasnya dan tertidur dengan gaun impiannya.
Rupanya malam itu adalah malam terakhir Aisyah kecil tertidur dengan tenang di rumahnya. Malam berikutnya ia bersama kedua orangtuanya bergabung bersama demonstran di lapangan Rabea Adaweya. Dan pagi itu 14 Agustus 2013, Aisyah kecil menjadi korban dari peluru yang ditembakkan oleh tentara militer. Ia meninggal dunia dalam dekapan ayahnya yang juga menjadi korban. Allahummaghfirlahuma,, warhamhuma…
Mama Aisyah tampak begitu tegar ketika bercerita, ia dengan mantap mengakhiri ceritanya dengan kalimat “ suami dan putriku sudah menantiku di surga insya Allah” memang ada airmata yang membasahi pipinya, namun airmata itu juga milikku, aku kehilangan seorang adik manis nan lucu, masih membekas dalam ingatanku senyuman Aisyah kecil dan pembawaannya yang riang. Airmataku mengalir semakin deras ketika mama Aisyah menyodorkan foto terakhir Aisyah kecil ketika sudah berbalut kafan. Wajahnya damai dan tenang. Selamat jalan Aisyah, selamat jalan adikku,, 





   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar