Menjadi penghuni baru di
Mesir untuk waktu yang cukup lama mengharuskan kami siap beradaptasi dengan
suasana baru. Dimulai dari adat istiadat, cuaca, bahasa sampai cita rasa
makanannya. Awalnya tidak mudah bagi saya untuk menerima makanan yang cita
rasanya jauh berbeda dengan makanan Indonesia. Dengan berjalannya waktu maka
beberapa makanan mulai bisa bersahabat dengan lidah Indonesia saya. Makanan
Mesir memiliki cita rasa asin karena kaya akan bumbu rempahnya khas timur
tengah. Tetapi untuk beberapa cemilan dan makanan penutup, Mesir juaranya dengan rasa manis yang sangat
kuat. Beberapa makanan Mesir yang pernah saya cicipi adalah sebagai berikut:
Ruz bil Laban
Makanan ini terbuat
dari tepung beras yang dimasak menggunakan susu kemudian dipanggang di dalam
oven. Bentuknya mirip bubur sumsum namun sedikit lebih manis. Ruz bil laban
sering disajikan sebagai makanan penutup karena teksturnya yang padat layaknya
pudding.
Roti Isy (roti kehidupan)
Roti isy adalah
makanan pokok rakyat Mesir. Karena merupakan makanan pokok maka roti isy banyak
dijumpai di seluruh penjuru Mesir. Walaupun menjadi makanan pokok, roti Isy
terbagi menjadi 2 yaitu Isy rakyat dan Isy kaum elit. Untuk Isy rakyat, roti
ini dijual dengan harga yang teramat murah dan biasa dijumpai di pasar atau di
tepi jalan. Sedangkan untuk Isy kaum elit hanya dapat ditemukan di toko,
swalayan dan restaurant dengan harga yang lebih mahal. Tentu saja beda kelas,
beda harga, dan beda kualitas. Isy Rakyat berwarna coklat, terasa kasar dan
keras, sedangkan Isy kaum elit berwarna putih, lembut, dan lunak. Roti Isy bisa
dimakan dengan berbagai cara karena memiliki rongga di tengahnya yang bisa
diisi dengan telur, sayuran, kacang, daging seperti sandwich. Roti isy yang
disantap dengan kacang yang sudah digiling dinamakan Isy bil fuul, sedangkan
yang diisi dengan sayuran dan telur disebut tho’miyah bil beidh. Bagi mahasiswa
Indonesia kebanyakan, tho’miyah bil beidh adalah makanan yang cukup bersahabat
dengan lidah dan kantong tentunya. Roti Isy juga bisa disantap dengan kofta
(daging giling yang sudah dibumbui), ayam bakar, atau kibdah (hati sapi yang
diberi bumbu dan digoreng).
Karena menjadi makanan
pokok rakyat Mesir, maka roti ini diberi nama roti Isy atau roti kehidupan.
Jangan sekali-kali menelantarkan makanan ini atau membuangnya di sembarang
tempat jika tidak mau kena masalah, karena roti ini sangat diistimewakan oleh
penduduk Mesir.
Mahsy
Makanan ini saya temui
pertama kali pada pertengahan Ramadhan tahun 2013. Ketika itu saya diajak berkunjung
ke rumah keluarga sahabat ustad Fadli, penduduk asli Mesir yang tinggal di
daerah Syarqiyyah, sebuah perkampungan yang kami tempuh selama 4 jam dari
Kairo. Kami dijamu buka puasa dengan menu khas Mesir yang disajikan dalam satu
nampan besar berisi 2 ekor ayam utuh, salatoh (potongan tomat, timun, dan
bawang), 2 piring penuh berisi mahsy, manisan, dan 1 botol besar jus mangga.
Pertama kali mencicipi mahsy dan lidah Indonesia saya langsung bisa
menerimanya. Mahsy atau beras yang dimasak dengan bumbu rempah seperti nasi
uduk di Indonesia kemudian diisikan ke dalam sayuran seperti kobis, atau terong
yang sudah diberi lubang di tengah dan dibuang isinya. Rasa bumbu rempahnya
kuat dan gurih sangat nikmat disajikan selagi hangat.
Nantikan edisi kuliner Mesir selanjutnya.. ^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar