Selasa, 27 Januari 2015

Nuansa Ramadhan Kairo

Ramadhan 1434 H adalah ramadhan istimewa untukku. Mengapa istimewa ? karena ramadhan tahun ini kurasakan dengan nuansa yang berbeda. Ramadhan kali ini adalah ramadhan pertamaku di negeri orang, di negeri yang menjadi tempat perantauanku hingga 4 tahun ke depan ya negeri istimewa bernama Mesir. Beberapa kawan memilih pulang ke Indonesia untuk berlibur di awal Ramadhan, dan beberapa lainnya memilih untuk merasakan nuansa ramadhan di tanah suci, sisanya adalah kami yang menetap di Mesir. Pada mulanya terlintas di benakku, betapa sedihnya harus berlebaran di negeri orang jauh dari keluarga. Namun, kumantapkan untuk tetap bermukim di Mesir dan merasakan nuansa baru ramadhan dan idul fitri di bumi para nabi.
Nuansa ramadhan di Mesir amatlah kental, suasana pasar yang pada hari biasa ramai hiruk pikuk dengan teriakan pedagang yang menawarkan dagangannya. Pada hari-hari ramadhan  lantunan ayat suci Al Qur’an menggantikan musik Mesir yang biasa diputar lewat kaset. Dengan mudah dapat ditemukan di seluruh pelosok Kairo orang-orang sedang membaca Al Qur’an sembari berdagang, di kendaraan umum, bengkel bahkan taxi.
Ramadhan di Mesir itu sesuatu, karena bulan Ramadhan bertepatan dengan puncak musim panas sehingga waktu berpuasa semakin panjang ditambah suhu yang mencapai 40 derajat celcius. Pada awal bulan Ramadhan akan terasa berat sekali ketika harus berpuasa selama 16 jam. Dimulai dengan adzan shubuh yang berkumandang pada pukul 3 dini hari dan diakhiri dengan adzan maghrib pada pukul  7 malam. Namun ada kenikmatan tersendiri ketika berbuka puasa di Mesir.  jangan takut kekurangan hidangan berbuka, karena Mesir punya kebiasaan tersendiri di buan suci. Para muhsinin berlomba-lomba menebar kebaikan di bulan suci dengan berbagi hidangan berbuka puasa. Dari menu takjil 3 biji kurma dan segelas jus manga dingin yang biasa dibagikan di jalan atau pusat perbelanjaan hingga menu makanan berat yang dibagikan di masjid-masjid. Makanan yang dibagikan di masjid-masjid biasa kami sebut dengan “maidaturrahmah” .
Menu yang dibagikan di masjid pun bukan menu biasa, daging ayam panggang (firokh) atau daging sapi yang diberi bumbu ala Mesir, daging kambing (kofta) nasi khas yaman dan potongan tomat. Semua dibagikan secara Cuma-Cuma alias gratis. Kenikmatan Ramadhan Mesir tidak sampai di sini. Usai berbuka puasa maka tibalah waktu sholat Isya’. Adzan yang berkumandang menghentikan semua aktivitas masyarakat, dengan segera masjid-masjid dipadati oleh masyarakat yang akan menunaikan sholat Isya’ berjamaah dilanjutkan dengan sholat taraweh.
Lantunan ayat suci yang dibacakan imam sepanjang sholat taraweh bisa mencapai 1 juz panjangnya dengan tujuan untuk mengkhatamkannya di akhir bulan Ramadhan. Tradisi ini tersebar di seluruh masjid di kota Kairo. Jalanan pun lengang ketika waktu sholat taraweh bahkan beberapa pedagang meninggalkan dagangannya untuk menunaikan sunnah bulan suci ini.  Do’a  qunut taraweh yang dibacakan imam ketika sholat juga menimbulkan rasa tersendiri, keharuan menyeruak ketika sang imam berdo’a untuk Mesir yang kala itu suasananya sedang ricuh karena kudeta presiden Mursi. Usai sholat taraweh perjalanan pulang ke flat akan diterangi oleh lampion lentera khas Ramadhan yang dipasang dan dinyalakan setiap malam oleh rumah-rumah penduduk Mesir. Lampion unik ini biasa disebut dengan Fanoos. Bagi penduduk Mesir sendiri bulan Ramadhan adalah bulan yang istimewa, sehingga kehadirannya setiap tahun selalu disambut dengan cara tersendiri. Banyak tradisi unik untuk menyambut bulan Ramadhan, selain menggantung lampion di depan rumah, mereka juga membuat kue-kue dan manisan yang dibagikan kepada tetangga. Selain itu bagi kami sebagai pendatang di negeri seribu menara, bulan Ramadhan menjadi berkah tersendiri. Sebut saja ketika kami datang ke rumah baba pemilik flat yang kami tempati untuk membayar uang sewa, si baba yang biasanya garang mendadak menjadi sangat lembut. Beliau meminta kami duduk untuk menikmati hidangan berbuka puasa bersama keluarganya. Nampan besar penuh hidangan khas Mesir sudah tertata rapi di hadapan kami ada 2 ekor firokh (ayam utuh),isy baladi(roti khas mesir), potongan tomat dan bawang, serta kibdah (hati sapi yang digoreng). Untuk pencuci mulutnya disediakan berbagai manisan dengan bentuknya yang beraneka ragam. Sebelum kami pamit pulang beliau membekali kami plastik besar berisi sembako lengkap dan daging sapi. Ramadhan memang selalu menjadi bulan penuh keberkahan, banyak rezeki yang datang tanpa diduga.
Bulan Ramadhan di Mesir yang bertepatan dengan musim panas membuat banyak agenda dilaksanakan malam hari untuk menyiasati suhu yang tinggi di siang hari. Walaupun begitu masjid Al Azhar tak pernah mati, kegiatan talaqi bersama syekh tetap ramai peminat meski di siang hari terik sekalipun. Bagi masyarakat Mesir malam ke-27 menjadi malam yang istimewa, mereka percaya bahwa lailatul qadar turun di malam ke-27 Ramadhan. Pada malam ke-27 mereka akan mengajak sanak keluarganya untuk pergi meninggalkan rumah dan berdiam diri di masjid usai sholat taraweh dengan membacaAl qur’an hingga waktu sahur tiba.
Untuk mengantisipasi jama’ah yang akan meningkat jumlahnya, maka pihak masjid menggelar karpet dan tikar di halaman masjid. Sesuai perkiraan, halaman masjid pun dipadati oleh jama’ah dari berbagai usia. Doa qunut yang dibacakan oleh imam masjid Bilal bin rabah malam itu benar-benar merasuk di kalbu jama’ahnya. “Allahumma la tahrim alayna qiyamul lail ba’da Ramadhan, Allahumma la tahrim alayna shiyam ba’da Ramadhan, Allahumma la tahrim alayna qiraatul Qur’an ba’da Ramadhan, Allahumma la tahrim alayna sholatul jama’ah ba’da Ramadhan, Allahumma qabilna bil Ramadhan fi marrah adidah, Allahumma unshur ikhwanina fi biladi syam, wa falestin, wa mishriyyin” bait terakhir ini diulang hingga 3x ada nada isak tangis di tiap bacaannya.  Berikut arian lepas yang bisa aku tangkap dari do’a tersebut “ ya Allah jangan Kau haramkan kami dari sholat malam setelah Ramadhan, jangan Kau haramkan kami dari puasa-puasa sunnah usai Ramadhan, jangan Kau haramkan kami dari lantunan ayat-ayatMu selepas Ramadhan, jangan Kau haramkan kami dari jamaah sholat setelah Ramadhan, dengan kuasaMu pertemukan kami kembali dengan RamadhanMu selanjutnya, ya Allah bantulah saudara-saudara kami di tanah Syam, Palestina dan Mesir”.
Doa ini benar-benar  ampuh membuat jama’ah terisak penuh haru, bahkan seorang ibu di sampingku menangis dengan deras. Di akhir sholat ia bercerita bahwa sang suami meninggal pagi tadi, seorang dokter yang mengurusi jasadnya mengirimkan pesan singkat melalui ponsel yang masih ada dalam saku almarhum untuk memberitahu bahwa sang pemilik ponsel telah kembali kepada Sang Khalik. Ibu itu bercerita dengan suara lirih, wajahnya teduh menunjukkan ketegaran luar biasa.  Ada seorang bayi dalam gendongannya dan seorang anak perempuan di sampingnya. Aku menghampiri gadis cantik itu, Habeeba namanya ia tersenyum ke arahku kemudian berkata “asif baba syahid” kemudian tertunduk. Ya Allah mereka benar-benar kuat, dan kekuatan mereka menguatkan yang lain. Aku memeluknya dan berkata “ishbir ya habibty, baba fil gannah insya Allah”.
Sahur kali ini benar-benar istimewa, kami sahur bersama di halaman masjid Bilal bin Rabah. Mereka menawarkan menu sahurnya kepada kami, kesederhanaan ini begitu nyata dan mereka saling berbagi. Habeeba kecil menghampiriku, menawarkan roti fino bil kibdah miliknya kemudian aku menyodorkan jus kotak milikku dan kami menikmatinya bersama. Ada tawa di wajahnya,  aku bahagia mengenalnya dan ia mengajarkanku bagaimana menghadapi kerasnya hidup. Habeeba kecil sudah kehilangan ayahnya, cobaan teramat berat untuk anak kecil seusianya. “Ada Allah bersamamu Habeeba”, pamitku sebelum meninggalkan masjid usai sholat shubuh. Aku percaya ada Allah swt yang akan menjaga negeri ini.
Ramadhan pun usai, tak pernah ada takbir keliling di negeri ini namun bagaimanapun juga Mesir punya kisah unik tersendiri bagi kami yang mulai mencintai negeri ini. Budaya takbiran memang sudah melekat di hati kami sebagai warga Negara Indonesia, sehingga acara malam takbiran bersama sesama mahasiswa Indonesia di Mesir banyak diadakan oleh kekeluargaan dan perkumpulan alumni. Tak semeriah di Indonesia, namun Mesir punya cara tersendiri untuk memikat hati kami. Allahu akbar,, selamat idul fitri 1434 H kullu sanah wa antum bi khoirin. Sampaikan salam kami untuk Indonesia, tetap jaga orang-orang yang kami cintai di sana.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar