Ramadhan 1434 H adalah ramadhan istimewa untukku. Mengapa istimewa ?
karena ramadhan tahun ini kurasakan dengan nuansa yang berbeda. Ramadhan kali
ini adalah ramadhan pertamaku di negeri orang, di negeri yang menjadi tempat
perantauanku hingga 4 tahun ke depan ya negeri istimewa bernama Mesir. Beberapa
kawan memilih pulang ke Indonesia untuk berlibur di awal Ramadhan, dan beberapa
lainnya memilih untuk merasakan nuansa ramadhan di tanah suci, sisanya adalah
kami yang menetap di Mesir. Pada mulanya terlintas di benakku, betapa sedihnya
harus berlebaran di negeri orang jauh dari keluarga. Namun, kumantapkan untuk
tetap bermukim di Mesir dan merasakan nuansa baru ramadhan dan idul fitri di
bumi para nabi.
Nuansa ramadhan di Mesir amatlah kental, suasana pasar yang pada hari
biasa ramai hiruk pikuk dengan teriakan pedagang yang menawarkan dagangannya.
Pada hari-hari ramadhan lantunan ayat
suci Al Qur’an menggantikan musik Mesir yang biasa diputar lewat kaset. Dengan
mudah dapat ditemukan di seluruh pelosok Kairo orang-orang sedang membaca Al
Qur’an sembari berdagang, di kendaraan umum, bengkel bahkan taxi.
Ramadhan di Mesir itu sesuatu, karena bulan Ramadhan bertepatan dengan
puncak musim panas sehingga waktu berpuasa semakin panjang ditambah suhu yang
mencapai 40 derajat celcius. Pada awal bulan Ramadhan akan terasa berat sekali
ketika harus berpuasa selama 16 jam. Dimulai dengan adzan shubuh yang
berkumandang pada pukul 3 dini hari dan diakhiri dengan adzan maghrib pada
pukul 7 malam. Namun ada kenikmatan
tersendiri ketika berbuka puasa di Mesir.
jangan takut kekurangan hidangan berbuka, karena Mesir punya kebiasaan
tersendiri di buan suci. Para muhsinin berlomba-lomba menebar kebaikan di bulan
suci dengan berbagi hidangan berbuka puasa. Dari menu takjil 3 biji kurma dan
segelas jus manga dingin yang biasa dibagikan di jalan atau pusat perbelanjaan
hingga menu makanan berat yang dibagikan di masjid-masjid. Makanan yang
dibagikan di masjid-masjid biasa kami sebut dengan “maidaturrahmah” .
Menu yang dibagikan di masjid pun bukan menu biasa, daging ayam panggang
(firokh) atau daging sapi yang diberi bumbu ala Mesir, daging kambing (kofta) nasi
khas yaman dan potongan tomat. Semua dibagikan secara Cuma-Cuma alias gratis.
Kenikmatan Ramadhan Mesir tidak sampai di sini. Usai berbuka puasa maka tibalah
waktu sholat Isya’. Adzan yang berkumandang menghentikan semua aktivitas
masyarakat, dengan segera masjid-masjid dipadati oleh masyarakat yang akan
menunaikan sholat Isya’ berjamaah dilanjutkan dengan sholat taraweh.
Lantunan ayat suci yang dibacakan imam sepanjang sholat taraweh bisa
mencapai 1 juz panjangnya dengan tujuan untuk mengkhatamkannya di akhir bulan
Ramadhan. Tradisi ini tersebar di seluruh masjid di kota Kairo. Jalanan pun
lengang ketika waktu sholat taraweh bahkan beberapa pedagang meninggalkan
dagangannya untuk menunaikan sunnah bulan suci ini. Do’a
qunut taraweh yang dibacakan imam ketika sholat juga menimbulkan rasa
tersendiri, keharuan menyeruak ketika sang imam berdo’a untuk Mesir yang kala
itu suasananya sedang ricuh karena kudeta presiden Mursi. Usai sholat
taraweh perjalanan pulang ke flat akan diterangi oleh lampion lentera khas
Ramadhan yang dipasang dan dinyalakan setiap malam oleh rumah-rumah penduduk
Mesir. Lampion unik ini biasa disebut dengan Fanoos. Bagi penduduk Mesir
sendiri bulan Ramadhan adalah bulan yang istimewa, sehingga kehadirannya setiap
tahun selalu disambut dengan cara tersendiri. Banyak tradisi unik untuk
menyambut bulan Ramadhan, selain menggantung lampion di depan rumah, mereka
juga membuat kue-kue dan manisan yang dibagikan kepada tetangga. Selain itu
bagi kami sebagai pendatang di negeri seribu menara, bulan Ramadhan menjadi
berkah tersendiri. Sebut saja ketika kami datang ke rumah baba pemilik flat
yang kami tempati untuk membayar uang sewa, si baba yang biasanya garang
mendadak menjadi sangat lembut. Beliau meminta kami duduk untuk menikmati
hidangan berbuka puasa bersama keluarganya. Nampan besar penuh hidangan khas
Mesir sudah tertata rapi di hadapan kami ada 2 ekor firokh (ayam utuh),isy
baladi(roti khas mesir), potongan tomat dan bawang, serta kibdah (hati sapi
yang digoreng). Untuk pencuci mulutnya disediakan berbagai manisan dengan
bentuknya yang beraneka ragam. Sebelum kami pamit pulang beliau membekali kami
plastik besar berisi sembako lengkap dan daging sapi. Ramadhan memang selalu menjadi
bulan penuh keberkahan, banyak rezeki yang datang tanpa diduga.
Bulan Ramadhan di Mesir yang bertepatan dengan musim panas membuat
banyak agenda dilaksanakan malam hari untuk menyiasati suhu yang tinggi di
siang hari. Walaupun begitu masjid Al Azhar tak pernah mati, kegiatan talaqi
bersama syekh tetap ramai peminat meski di siang hari terik sekalipun. Bagi
masyarakat Mesir malam ke-27 menjadi malam yang istimewa, mereka percaya bahwa
lailatul qadar turun di malam ke-27 Ramadhan. Pada malam ke-27 mereka akan
mengajak sanak keluarganya untuk pergi meninggalkan rumah dan berdiam diri di
masjid usai sholat taraweh dengan membacaAl qur’an hingga waktu sahur tiba.
Untuk mengantisipasi jama’ah yang akan meningkat jumlahnya, maka pihak
masjid menggelar karpet dan tikar di halaman masjid. Sesuai perkiraan, halaman
masjid pun dipadati oleh jama’ah dari berbagai usia. Doa qunut yang dibacakan
oleh imam masjid Bilal bin rabah malam itu benar-benar merasuk di kalbu
jama’ahnya. “Allahumma la tahrim alayna qiyamul lail ba’da Ramadhan, Allahumma
la tahrim alayna shiyam ba’da Ramadhan, Allahumma la tahrim alayna qiraatul
Qur’an ba’da Ramadhan, Allahumma la tahrim alayna sholatul jama’ah ba’da
Ramadhan, Allahumma qabilna bil Ramadhan fi marrah adidah, Allahumma unshur
ikhwanina fi biladi syam, wa falestin, wa mishriyyin” bait terakhir ini diulang
hingga 3x ada nada isak tangis di tiap bacaannya. Berikut arian lepas yang bisa aku tangkap
dari do’a tersebut “ ya Allah jangan Kau haramkan kami dari sholat malam
setelah Ramadhan, jangan Kau haramkan kami dari puasa-puasa sunnah usai
Ramadhan, jangan Kau haramkan kami dari lantunan ayat-ayatMu selepas Ramadhan,
jangan Kau haramkan kami dari jamaah sholat setelah Ramadhan, dengan kuasaMu
pertemukan kami kembali dengan RamadhanMu selanjutnya, ya Allah bantulah
saudara-saudara kami di tanah Syam, Palestina dan Mesir”.
Doa ini benar-benar ampuh membuat
jama’ah terisak penuh haru, bahkan seorang ibu di sampingku menangis dengan
deras. Di akhir sholat ia bercerita bahwa sang suami meninggal pagi tadi,
seorang dokter yang mengurusi jasadnya mengirimkan pesan singkat melalui ponsel
yang masih ada dalam saku almarhum untuk memberitahu bahwa sang pemilik ponsel
telah kembali kepada Sang Khalik. Ibu itu bercerita dengan suara lirih,
wajahnya teduh menunjukkan ketegaran luar biasa. Ada seorang bayi dalam gendongannya dan
seorang anak perempuan di sampingnya. Aku menghampiri gadis cantik itu, Habeeba
namanya ia tersenyum ke arahku kemudian berkata “asif baba syahid” kemudian
tertunduk. Ya Allah mereka benar-benar kuat, dan kekuatan mereka menguatkan
yang lain. Aku memeluknya dan berkata “ishbir ya habibty, baba fil gannah insya
Allah”.
Sahur kali ini benar-benar istimewa, kami sahur bersama di halaman
masjid Bilal bin Rabah. Mereka menawarkan menu sahurnya kepada kami,
kesederhanaan ini begitu nyata dan mereka saling berbagi. Habeeba kecil
menghampiriku, menawarkan roti fino bil kibdah miliknya kemudian aku
menyodorkan jus kotak milikku dan kami menikmatinya bersama. Ada tawa di
wajahnya, aku bahagia mengenalnya dan ia
mengajarkanku bagaimana menghadapi kerasnya hidup. Habeeba kecil sudah
kehilangan ayahnya, cobaan teramat berat untuk anak kecil seusianya. “Ada Allah
bersamamu Habeeba”, pamitku sebelum meninggalkan masjid usai sholat shubuh. Aku
percaya ada Allah swt yang akan menjaga negeri ini.
Ramadhan pun usai, tak pernah ada takbir keliling di negeri ini namun
bagaimanapun juga Mesir punya kisah unik tersendiri bagi kami yang mulai
mencintai negeri ini. Budaya takbiran memang sudah melekat di hati kami sebagai
warga Negara Indonesia, sehingga acara malam takbiran bersama sesama mahasiswa
Indonesia di Mesir banyak diadakan oleh kekeluargaan dan perkumpulan alumni.
Tak semeriah di Indonesia, namun Mesir punya cara tersendiri untuk memikat hati
kami. Allahu akbar,, selamat idul fitri 1434 H kullu sanah wa antum bi khoirin.
Sampaikan salam kami untuk Indonesia, tetap jaga orang-orang yang kami cintai
di sana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar