Sejak dulu, Timur
Tengah memiliki nilai istimewa dalam pandangan masyarakat di dunia tak
terkecuali masyarakat Indonesia. Terutama universitas Al Azhar di Mesir yang
menjadi salah satu universitas islam tertua dan kiblat khazanah keislaman.
Sejarah kesuksesan para alumninya seperti Dr. Muhammad Quraish shihab,dan
Habiburrahman el shirazy menjadi daya tarik tersendiri bagi para calon
mahasiswa yang ingin melanjutkan studinya di bumi kinanah ini. Sebelum
benar-benar menginjakkan kaki di Mesir takkan ada yang tahu tentang realita
kehidupan para mahasiswa di Mesir yang terkadang jauh dari bayangan dan cerita
yang diterima di tanah air. Sebelum tiba di Mesir yang terfikir dalam benak
kita adalah kokohnya pyramid dan spinx, megahnya kampus al azhar, dan indahnya
kota Alexandria dan pemandangan sungai nil tanpa kita tahu seluk beluk dan
kenyataan yang ada di Mesir.
Setelah tiba di
Mesir dan berbaur dengan hiruk pikuk kondisi dan suasana yang ada, berbagai
macam hal mulai mewarnai kehidupan mahasiswa. Dimulai dari rumitnya lalu lintas
terutama di beberapa titik keramaian di kota Kairo, interaksi dengan banyaknya
mahasiswa asing dari beberapa Negara di kampus, usaha mempelajari bahasa
ammiyah yaitu bahasa sehari-hari yang digunakan masyarakat Mesir, perjuangan
memahami penjelasan dosen di kelas dan mendapatkan diktat kuliah sampai beradaptasi dengan
berbagai macam kondisi di Mesir.
Salah satu dari
warna kehidupan mahasiswa di Mesir adalah intensitas aktivitas yang tinggi
dimulai dari bimbingan belajar, kegiatan di setiap kekeluargaan dan organisasi,
tahsin qur’an, kajian kitab, pelatihan dan seminar. Banyaknya kegiatan membuat
para mahasiswa belajar mengatur waktunya dengan sebaik mungkin karena 2 kunci
utama yang mendukung keberhasilan para mahasiswa adalah manajemen diri dan
waktu. Selain kegiatan dan aktivitas organisasi, beberapa mahasiswa juga
mencari tambahan pemasukan dengan berbisnis, salah satunya dengan membuka
restoran dengan menu Indonesia. Bisnis restoran Indonesia termasuk bisnis yang
menguntungkan karena ramai dikunjungi oleh para mahasiswa yang ingin melepas
rindu dengan masakan tanah air. Namun ada beberapa dampak negatif dari mahasiswa
yang waktunya tersita dengan banyak kegiatan organisasi dan bisnis sehingga
tujuan utama nya untuk menuntut ilmu terlupakan. Oleh karena itu kita dituntut
untuk mengatur waktu dan tidak melupakan tujuan utama untuk menimba ilmu di
bumi kinanah ini.
Salah satu hal yang
terkadang juga menghipnotis mahasiswa sehingga melupakan kewajibannya adalah
pemakaian internet yang tidak terkontrol sehingga banyak menyita waktu dan
hasilnya sia-sia. Kecepatan internet di Mesir yang jauh lebih cepat
dibandingkan Indonesia menjadi daya tarik mahasiswa untuk berlama-lama
berkelana di dunia maya. Kondisi cuaca di Mesir yang ekstrem juga menjadi salah
satu tantangan bagi para mahasiswa terutama mahasiswa baru yang masih menjajaki
tahap adaptasi. Suhu musim panas Mesir yang terkadang melampaui angka 40
derajat celcius membuat para mahasiswa harus kuat menjalani rutinitas harian
dengan terik matahari yang begitu menyengat. Tak jarang beberapa mengalami
mimisan karena suhu yang tinggi. Musim dingin di Mesir pun tak kalah
ekstremnya, apalagi ketika harus menempuh ujian al azhar di musim dingin yang
mewajibkan para mahasiswa ke kampus dengan jaket tebal untuk melawan hawa
dingin. Kondisi cuaca yang tak menentu menjadikan kesehatan adalah hal yang
sangat penting untuk kelancaran semua aktivitas di Mesir sehingga usaha untuk
menjaga kesehatan dilakukan dengan berbagai macam cara.
Banyaknya mahasiswa
dari Indonesia menciptakan rasa persaudaraan yang kuat dan kekeluargaan yang
erat menjadaikan kita merasa tidak hidup sendiri di bumi kinanah ini. Namun,
seberapapun banyaknya tantangan yang ada tak boleh menjadikan kita lemah dan
putus asa sehingga menyerah dan mengakhiri perjuangan ini. Karena buah manis
perjuangan terdapat di hasil akhirnya. Teman, selamat menikmati warna-warni
kehidupan di Mesir, tetap semangat!
