Kamis, 19 Februari 2015

Ke Mesir Apa Yang Kau Cari

Ada saja alasan untuk terus mencintai negeri ini.
Kemarin adalah hari pertama masuk kelas mata kuliah Tashawwuf di semester ini, seperti biasa dukturah (dosen) memulai dengan ta'aruf alias perkenalan sekaligus mendiskusikan tentang peraturan kelas selama mata kuliah berlangsung. Tidak ada Obrolan di luar mata kuliah, tidak ada hape, tidak ada makanan dan ada jeda 15 menit waktu bebas sebelum beliau mulai mengajar. Ini adalah beberapa poin yang kami sepakati bersama. Beliau juga meminta kami menuliskan nama berikut cita-cita kami di atas selembar kertas yang diletakkan di kursi masing-masing. Maksud dan tujuan beliau adalah agar kami saling mengenal satu sama lain, selain itu agar tidak ada lagi perintah asal tunjuk tanpa menyebutkan nama seperti misalnya "ya kamu yang di sana". Beliau akan memanggil nama kami sesuai dengan yang tertera di atas kertas berikut cita-cita kami. Seperti halnya seorang kawan yang ingin menjadi seorang dosen, maka beliau memanggilnya "Yaa dukturah Aiman". Harapannya semoga panggilan ini sekaligus menjadi do'a untuk kami.
Sebelum memulai pelajarannya beliau mempersilahkan kepada kami untuk mengangkat tangan jika ada hal yang ingin disampaikan berkenaan dengan poin-poin yang akan menjadi kesepakatan bersama di kemudian hari. Seorang mahasiswi asal Cina mengangkat tangan, serentak perhatian seisi kelas tertuju padanya. Ia menyampaikan sedikit keberatannya perihal mata kuliah yang disampaikan dengan bahasa Ammiyah (bahasa percakapan Mesir). Ia meminta beliau untuk mengajar dengan bahasa Arab Fusha (bahasa arab resmi) sebagaimana yang ia kuasai setelah belajar di lembaga kursus bahasa Arab selama 2 tahun. Seorang Mahasiswi asal Rusia yang duduk tepat di sebelahku juga mengungkapkan kesulitannya menangkap materi dengan bahasa Ammiyah. Kemudian beliau balik bertanya, "Sudah berapa tahun kalian tinggal di Mesir, Bagaimana bisa selama ini kalian tidak bisa menguasai bahasa Ammiyah, Bagaimana jadinya jika kalian suatu hari nanti akan meninggalkan Mesir dan bahasa Ammiyah sama sekali tidak kalian fahami, Apakah jika suatu hari nanti jika kalian pergi ke belahan bumi yang lain ke benua Eropa misalnya, apakah kalian akan meminta mereka untuk berbahasa Arab Fusha? tidak mungkin bukan, solusinya bagi kalian yang belum memiliki bekal bahasa adalah mulailah belajarlah bahasa ada banyak markaz bahasa di Mesir yang memiliki program pembelajaran bahasa Arab Fusha dan bahasa Arab Ammiyah, waktu kalian selama di Mesir gunakan sebaik-baiknya. Saya akan berusaha menyampaikan materi dengan bahasa Arab Fusha, tapi saya minta kalian mulailah belajar sedikit demi sedikit bahasa Ammiyah dari teman-teman Mesir yang ada di kelas ini. Di akhir semester nanti saya akan tanya perkembangannya, apa yang sudah didapatkan oleh teman-teman wafidat (Mahasiswi dari negara selain Mesir) dari Mashriyyat (mahasiswi asli Mesir), dan apa yang sudah didapatkan oleh teman-teman Mashriyyat dari kawan-kawan wafidat. Kalian ada di kelas yang mahasiswinya terdiri dari berbagai macam negara, maka tukar menukar ilmu adalah kesempatan yang sangat berharga, dan kalian harus bisa menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain" Ucap beliau panjang lebar yang berhasil membuat kelas senyap sejenak. Entah apa yang ada di benak mereka semua. Benar apa kata beliau, bahasa memang menjadi kuncinya. Satu hal yang teramat kusyukuri adalah bisa menjadi bagian dari kelas ini, bertemu dengan kawan-kawan luar biasa dari berbagai negara dengan satu tujuan yang sama.
Sekali lagi ke Mesir apa yang kau cari?
Kelas 3 Tafsir, 18 Februari 2015