Selasa, 27 Januari 2015

Rumaisha Gadis Mesir yang Baik Hati

Namanya Rumaisha, gadis Mesir teman sekelasku. Pembawaannya yang ramah dan murah senyum membuatku nyaman ada di dekatnya. Rumahnya yang jauh dari kampus membuatnya harus berangkat lebih awal agar terhindar dari kemacetan Kairo. Ia selalu menungguku di barisan ke 6 bangku kuliah. Setiap hari ia menantiku di tempat yang sama. Kelebihannya menguasai bahasa Arab fusha sangat membantuku ketika menanyakan tentang mata kuliah yang dijelaskan dosen dalam bahasa ammiyah.  Buku catatannya yang lengkap dan rapi juga sangat membantuku.
Persahabatan kami semakin akrab ketika suatu pagi dia memberikan sebuah gelang dan memasangkannya di tanganku seraya berkata “ana uhibbuki ya wasilah”. Kami saling bertukar cerita tentang banyak hal, tentang keluarga, adat istiadat Negara, hingga makanan khas Negara masing-masing. Rumaisha gadis yang menyenangkan, ia menunjukkan kepadaku foto keluarganya dan bercerita banyak hal menarik tentang keluarganya. Dia bercerita tentang jarak antara rumah dan kampus yang cukup jauh sempat membuatnya memilih untuk tinggal di asrama mahasiswa Mesir yang berdekatan dengan kampus dan pulang ke rumah setiap akhir pekan. Namun ternyata rasa rindunya pada keluarga membuatnya memutuskan keluar dari asrama dan menempuh perjalanan yang cukup jauh setiap hari untuk pergi ke kampus. Cukup melelahkan memang, namun dirasa lebih baik dibandingkan harus berpisah dari keluarganya.
Dia ungkapkan kekagumannya pada tekad kuat para mahasiswa asing yang berjuang jauh dari keluarga demi menuntut ilmu di universitas Al-Azhar. Dia juga ceritakan bagaimana keluarganya melarang dirinya dan adik-adiknya berpacaran sebelum menyelesaikan kuliahnya. Kami banyak bertukar cerita, dari hal-hal sederhana sampai soal sistem pendidikan di Indonesia yang ia tanyakan padaku.
Sampai pada hari dimana kondisi kesehatan membuatku merasakan rawat inap rumah sakit Mesir. setelah keluar dari rumah sakit aku cukup lama absen dari bangku kuliah, hampir setiap hari ia menanyakan kondisiku pada seorang teman sesama mahasiswa Indonesia. ia juga menghubungiku untuk menanyakan kondisiku, ia sampaikan bahwasanya ia rindu ingin bertemu denganku.
Aku banyak tertinggal mata kuliah kala itu, dan Rumaisha sangat berperan membantuku mengejar ketertinggalan. Ia meminjamkan buku catatannya, memberikan kepadaku beberapa catatan dari dosen, serta menjelaskan mata kuliah yang sulit kupahami.  Hingga tiba waktu ujian kenaikan tingkat, ia dengan rutin menelfonku setiap selesai ujian, sekedar menanyakan apakah aku menemui kesulitan dalam mengerjakan soal atau mengingatkan untuk terus saling mendo’akan.  Pada hari terakhir ujian, aku sempatkan bertemu dan berfoto dengannya, kami berdo’a semoga kami bisa dipertemukan di tingkat selanjutnya.
Komunikasi kami sempat terputus dengan memburuknya situasi perpolitikan Mesir setelah lengsernya presiden Mursi. tempat tinggalnya di kawasan sittah uktubar adalah salah satu dari sekian banyak tempat berkumpulnya massa. Aku ingat ketika ia menelfonku usai sholat tarawih dan ia bercerita bahwa kawasannya terkepung, setiap malam ia dan keluarganya tidak bisa tidur dengan tenang karena suara tembakan di dekat tempat tinggalnya. Namun nyatanya ia teramat memikirkan kondisiku dan teman-temanku sesama mahasiswa Indonesia, ia khawatir jika memanasnya kondisi Mesir berdampak buruk kepada para pejuang ilmu seperti kami. Aku sampaikan padanya bahwa kami dalam keadaan baik dan aman. Ia juga sempat menanyakan tentang isu evakuasi pemerintah setiap negara yang berencana memulangkan semua warganya yang berada di Mesir. ia menangis takut kehilangan aku dan teman-teman. Aku menenangkannya, aku sampaikan bahwa kami juga mencintai negeri tempat pengembaraan ilmu ini.
Selama beberapa minggu aku sama sekali kehilangan kontak dengannya, nomernya tidak aktif, inbox fb pun tak dibalas olehnya. Aku sempat dilanda kecemasan mengingat semakin bertambahnya korban dan memburuknya situasi Mesir. namun kecemasanku berakhir dengan telfon darinya di suatu pagi, ia mengabarkan bahwa kami berdua naik ke tingkat 2. Alhamdulillah,..
Rumaisha, satu dari sekian banyak teman Mesirku, namun di mataku dia gadis istimewa, tak hanya cantik namun ia baik hati dan sangat ramah.. yarhamukillah ya Rumaisha,,
Uhibbuki fillah.. ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar