Namanya Rumaisha,
gadis Mesir teman sekelasku. Pembawaannya yang ramah dan murah senyum membuatku
nyaman ada di dekatnya. Rumahnya yang jauh dari kampus membuatnya harus
berangkat lebih awal agar terhindar dari kemacetan Kairo. Ia selalu menungguku
di barisan ke 6 bangku kuliah. Setiap hari ia menantiku di tempat yang sama.
Kelebihannya menguasai bahasa Arab fusha sangat membantuku ketika menanyakan
tentang mata kuliah yang dijelaskan dosen dalam bahasa ammiyah. Buku catatannya yang lengkap dan rapi juga
sangat membantuku.
Persahabatan kami
semakin akrab ketika suatu pagi dia memberikan sebuah gelang dan memasangkannya
di tanganku seraya berkata “ana uhibbuki ya wasilah”. Kami saling bertukar
cerita tentang banyak hal, tentang keluarga, adat istiadat Negara, hingga
makanan khas Negara masing-masing. Rumaisha gadis yang menyenangkan, ia
menunjukkan kepadaku foto keluarganya dan bercerita banyak hal menarik tentang
keluarganya. Dia bercerita tentang jarak antara rumah dan kampus yang cukup
jauh sempat membuatnya memilih untuk tinggal di asrama mahasiswa Mesir yang
berdekatan dengan kampus dan pulang ke rumah setiap akhir pekan. Namun ternyata
rasa rindunya pada keluarga membuatnya memutuskan keluar dari asrama dan
menempuh perjalanan yang cukup jauh setiap hari untuk pergi ke kampus. Cukup
melelahkan memang, namun dirasa lebih baik dibandingkan harus berpisah dari
keluarganya.
Dia ungkapkan
kekagumannya pada tekad kuat para mahasiswa asing yang berjuang jauh dari
keluarga demi menuntut ilmu di universitas Al-Azhar. Dia juga ceritakan
bagaimana keluarganya melarang dirinya dan adik-adiknya berpacaran sebelum
menyelesaikan kuliahnya. Kami banyak bertukar cerita, dari hal-hal sederhana
sampai soal sistem pendidikan di Indonesia yang ia tanyakan padaku.
Sampai pada hari
dimana kondisi kesehatan membuatku merasakan rawat inap rumah sakit Mesir.
setelah keluar dari rumah sakit aku cukup lama absen dari bangku kuliah, hampir
setiap hari ia menanyakan kondisiku pada seorang teman sesama mahasiswa
Indonesia. ia juga menghubungiku untuk menanyakan kondisiku, ia sampaikan
bahwasanya ia rindu ingin bertemu denganku.
Aku banyak tertinggal
mata kuliah kala itu, dan Rumaisha sangat berperan membantuku mengejar
ketertinggalan. Ia meminjamkan buku catatannya, memberikan kepadaku beberapa
catatan dari dosen, serta menjelaskan mata kuliah yang sulit kupahami. Hingga tiba waktu ujian kenaikan tingkat, ia
dengan rutin menelfonku setiap selesai ujian, sekedar menanyakan apakah aku
menemui kesulitan dalam mengerjakan soal atau mengingatkan untuk terus saling
mendo’akan. Pada hari terakhir ujian,
aku sempatkan bertemu dan berfoto dengannya, kami berdo’a semoga kami bisa
dipertemukan di tingkat selanjutnya.
Komunikasi kami sempat
terputus dengan memburuknya situasi perpolitikan Mesir setelah lengsernya
presiden Mursi. tempat tinggalnya di kawasan sittah uktubar adalah salah satu
dari sekian banyak tempat berkumpulnya massa. Aku ingat ketika ia menelfonku
usai sholat tarawih dan ia bercerita bahwa kawasannya terkepung, setiap malam
ia dan keluarganya tidak bisa tidur dengan tenang karena suara tembakan di
dekat tempat tinggalnya. Namun nyatanya ia teramat memikirkan kondisiku dan
teman-temanku sesama mahasiswa Indonesia, ia khawatir jika memanasnya kondisi
Mesir berdampak buruk kepada para pejuang ilmu seperti kami. Aku sampaikan
padanya bahwa kami dalam keadaan baik dan aman. Ia juga sempat menanyakan
tentang isu evakuasi pemerintah setiap negara yang berencana memulangkan semua
warganya yang berada di Mesir. ia menangis takut kehilangan aku dan
teman-teman. Aku menenangkannya, aku sampaikan bahwa kami juga mencintai negeri
tempat pengembaraan ilmu ini.
Selama beberapa minggu
aku sama sekali kehilangan kontak dengannya, nomernya tidak aktif, inbox fb pun
tak dibalas olehnya. Aku sempat dilanda kecemasan mengingat semakin
bertambahnya korban dan memburuknya situasi Mesir. namun kecemasanku berakhir
dengan telfon darinya di suatu pagi, ia mengabarkan bahwa kami berdua naik ke
tingkat 2. Alhamdulillah,..
Rumaisha, satu dari
sekian banyak teman Mesirku, namun di mataku dia gadis istimewa, tak hanya
cantik namun ia baik hati dan sangat ramah.. yarhamukillah ya Rumaisha,,
Uhibbuki fillah.. ^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar