Kamis, 19 Maret 2015

Mengapa Luar Negeri

“Kenapa sih kok milih kuliah jauh-jauh di luar negeri?” “Kenapa gak milih di Indonesia aja?”. Pertanyaan seperti ini cukup sering dilontarkan kepada saya. 
Pada kesempatan kali ini saya akan memberikan sedikit jawaban tentang alasan mengapa saya memilih untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri. 
Sekali lagi ini soal pilihan, pilihan yang bertanggung jawab tentunya. Bagi saya hidup itu 50% pilihan dan 50% lagi siap dengan konsekuensinya. Bagi saya kuliah di luar negeri memiliki suka duka tersendiri, tak mudah memang menjalaninya. Namun percayalah ini adalah proses yang menyenangkan ^_^
Beberapa poin yang menjadi kebahagiaan tersendiri bagi para penuntut ilmu di luar negeri adalah:


  •   Pengalaman baru
Dengan kuliah di luar negeri tentunya akan ada banyak  pengalaman baru yang didapatkan. Lingkungan yang baru akan memberi banyak hal yang mungkin tak bisa kita temukan di negeri sendiri.


  •   Teman dari Mancanegara
Salah satu poin plus dari kuliah di luar negeri adalah memiliki teman-teman baru dari Mancanegara. Berada di dalam kelas yang terdiri dari mahasiswa asing dari berbagai macam negara adalah satu hal yang sangat menyenangkan. Ada banyak informasi dan pengalaman yang dapat dimiliki dengan saling berbagi satu sama lain. Selain itu, memiliki teman dari mancanegara dapat menambah koneksi yang nantinya akan sangat bermanfaat bila ada rencana untuk melanjutkan studi, atau traveling.


  •  Melatih Kemandirian
Salah satu konsekuensi dari belajar di luar negeri adalah harus siap mandiri. Menetap di luar negeri selama masa studi memaksa diri untuk bisa berlatih mandiri alias tak melulu bergantung kepada orang lain. Tak ada orangtua, tak ada sanak saudara akan melatih diri untuk bisa melakukan banyak hal sendiri. Memasak, mengatur keuangan, mengurus segala keperluan sendiri.


  •  Jalan-jalan dan Kuliner
2 hal ini adalah bonus untuk para pelajar di luar negeri. Mengapa disebut bonus ? karena dibalik banyaknya konsekuensi yang harus dihadapi seperti, tumpukan diktat kuliah, urusan perpanjangan visa, mengatur keuangan, rindu tanah air dan lain-lain ada kesempatan untuk mengunjungi tempat-tempat wisata sekaligus mencicipi kulinernya. Selain itu dengan visa pelajar yang dimiliki terkadang beberapa objek wisata menyediakan harga khusus yang lebih murah daripada harga untuk pemegang visa turis.

Nah, meski ada beberapa poin keuntungan dan kebahagiaannya, menuntut ilmu di luar negeri tentu saja memiliki konsekuensi tersendiri yang harus siap dijalani yaitu:




  •   Rasa rindu akan keluarga dan tanah air
Mungkin ini adalah konsekuensi terberat bagi para penuntut ilmu di negeri orang. Jarak yang jauh serta masa studi yang berbilang tahun tak bisa dipungkiri akan menumbuhkan perasaan rindu keluarga dan tanah air. Namun kini kita hidup di jaman dengan kemajuan teknologi yang menyediakan berbagai macam jenis aplikasi yang bisa menjadi solusi untuk mengatasi rasa rindu. Komunikasi yang lancar via bbm, whats app, line, viber, skype, email dan lain-lain dapat menjadi tawaran untuk penawar rasa rindu.


  • Kendala cuasa dan bahasa
Ini juga salah satu konsekuensi yang harus siap dihadapi oleh para pelajar di luar negeri. Beradaptasi dengan kondisi cuaca yang ekstrem terutama di musim panas dan musim dingin adalah hal yang harus dijalani. Mempelajari bahasa yang digunakan oleh penduduk asli negara tempat menuntut ilmu juga satu kendala yang harus dihadapi oleh setiap pelajar di luar negeri.


  • Hidup hemat
Biaya hidup di luar negeri tak bisa dibilang murah, terlebih Indonesia memiliki mata uang yang nilai tukarnya termasuk rendah. Berburu beasiswa bisa menjadi salah satu solusi, apalagi kini banyak lembaga yang menawarkan program beasiswa ke luar negeri dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Namun bagaimanapun juga, sebagai pelajar di luar negeri tetap dituntut untuk cermat mengatur keuangan sendiri.

Nah, bagaimana sudah siap dengan segala konsekuensi di atas ? jika jawabannya siap maka selamat berjuang untuk mencari informasi negara yang menjadi tujuanmu. 
Gali info sebanyak-banyaknya agar tidak merugi. Kalau belum siap, maka selamat berfikir ulang dan menyusun ulang niat dan rencanamu. 
Menuntut ilmu di luar negeri bukan lagi soal gengsi dan keren-kerenan. Ini soal kesiapan keluar dan meninggalkan zona nyaman, berjuang dan bertahan demi masa depan. Ini soal pilihan, karena sekali lagi hidup di negeri orang bukanlah hal mudah namun percayalah bahwa proses ini menyenangkan. 
Sekali lagi jangan tertipu dengan foto para pelajar di luar negeri yang bisa berfoto dengan latar belakang Pyramid, Spinx, menara Eiffel, Big ben atau tempat-tempat keren lainnya. Karena di balik foto-foto keren itu ada banyak “riweuh” yang harus dihadapi seperti diktat kuliah yang menumpuk dan harus dibaca, cuaca yang ekstrem luar biasa, urusan perpanjangan visa yang prosesnya butuh kesabaran ekstra, serta rasa rindu keluarga dan tanah air yang menerpa.
Menuntut ilmu di luar negeri tak cukup hanya bermodalkan keinginan untuk jalan-jalan, upload foto-foto keren, atau makan-makanan yang tak bisa ditemui di negeri sendiri. Kalau modalnya keinginan-keinginan tadi lebih baik jadi turis saja, jangan jadi mahasiswa *ini serius!.
 Itulah mengapa syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi oleh para peminat beasiswa ke luar negeri cukup banyak. Belum lagi proses yang begitu panjang dan tak bisa dibilang mudah. 
Semua ribet dan susahnya mengumpulkan semua persyaratan, penerjemahan berkas, menghadapi tes tulis dan wawancara, pembuatan paspor, pengajuan visa, berburu beasiswa adalah hal-hal yang diharapkan dapat menjadi penguat semangat para pelajar ketika mulai goyah. 
Sekali lagi dimanapun kita berada, yang namanya menuntut ilmu tak bisa dibilang mudah, semua tentu ada cobaan dan tantangannya sendiri. Pengalaman belajar di luar negeri bukan lagi soal keren-kerenan, ini soal beban dan amanah yang akan ditanggung di hari kemudian. Kesempatan belajar di luar negeri adalah sebuah pengalaman berharga yang harus disyukuri adanya.
Lalu mengapa memilih Al Azhar? Alasan pertama adalah ingin berbakti kepada kedua orangtua dengan mewujudkan impiannya untuk memiliki anak seorang alumni Universitas Al Azhar. 
Alasan kedua adalah karena ingin menjadi seorang pendidik yang bermanfaat bagi ummat di kemudian hari. Universitas Al Azhar adalah institusi pendidikan Islam tertua di dunia yang menjadi kiblat pendididikan islam serta kiprah para alumninya yang sudah tidak diragukan lagi.
Sekali lagi, ini hanya soal pilihan, pilihan yang harus dipertanggung jawabkan di kemudian hari. Dimanapun kita menuntut ilmu hari ini maka kita bertanggung jawab pada kemajuan bangsa hari esok. Selamat berjuang, selamat berkarya, salam semangat wahai mahasiswa Indonesia.

Cairo, 19 Maret 2015








2 komentar: