“Kenapa sih kok milih kuliah
jauh-jauh di luar negeri?” “Kenapa gak milih di Indonesia aja?”. Pertanyaan seperti
ini cukup sering dilontarkan kepada saya.
Pada kesempatan kali ini saya akan
memberikan sedikit jawaban tentang alasan mengapa saya memilih untuk
melanjutkan pendidikan di luar negeri.
Sekali lagi ini soal pilihan, pilihan
yang bertanggung jawab tentunya. Bagi saya hidup itu 50% pilihan dan 50% lagi
siap dengan konsekuensinya. Bagi saya kuliah di luar negeri memiliki suka duka
tersendiri, tak mudah memang menjalaninya. Namun percayalah ini adalah proses
yang menyenangkan ^_^
Beberapa poin yang menjadi
kebahagiaan tersendiri bagi para penuntut ilmu di luar negeri adalah:
- Pengalaman baru
Dengan kuliah di luar negeri tentunya
akan ada banyak pengalaman baru yang
didapatkan. Lingkungan yang baru akan memberi banyak hal yang mungkin tak bisa
kita temukan di negeri sendiri.
- Teman dari Mancanegara
Salah satu poin plus dari kuliah
di luar negeri adalah memiliki teman-teman baru dari Mancanegara. Berada di
dalam kelas yang terdiri dari mahasiswa asing dari berbagai macam negara adalah
satu hal yang sangat menyenangkan. Ada banyak informasi dan pengalaman yang
dapat dimiliki dengan saling berbagi satu sama lain. Selain itu, memiliki teman
dari mancanegara dapat menambah koneksi yang nantinya akan sangat bermanfaat
bila ada rencana untuk melanjutkan studi, atau traveling.
- Melatih Kemandirian
Salah satu konsekuensi dari
belajar di luar negeri adalah harus siap mandiri. Menetap di luar negeri selama
masa studi memaksa diri untuk bisa berlatih mandiri alias tak melulu bergantung
kepada orang lain. Tak ada orangtua, tak ada sanak saudara akan melatih diri
untuk bisa melakukan banyak hal sendiri. Memasak, mengatur keuangan, mengurus
segala keperluan sendiri.
- Jalan-jalan dan Kuliner
2 hal ini adalah bonus untuk para
pelajar di luar negeri. Mengapa disebut bonus ? karena dibalik banyaknya konsekuensi
yang harus dihadapi seperti, tumpukan diktat kuliah, urusan perpanjangan visa,
mengatur keuangan, rindu tanah air dan lain-lain ada kesempatan untuk
mengunjungi tempat-tempat wisata sekaligus mencicipi kulinernya. Selain itu
dengan visa pelajar yang dimiliki terkadang beberapa objek wisata menyediakan
harga khusus yang lebih murah daripada harga untuk pemegang visa turis.
Nah, meski ada beberapa poin
keuntungan dan kebahagiaannya, menuntut ilmu di luar negeri tentu saja memiliki
konsekuensi tersendiri yang harus siap dijalani yaitu:
- Rasa rindu akan keluarga dan tanah air
Mungkin ini adalah konsekuensi
terberat bagi para penuntut ilmu di negeri orang. Jarak yang jauh serta masa
studi yang berbilang tahun tak bisa dipungkiri akan menumbuhkan perasaan rindu
keluarga dan tanah air. Namun kini kita hidup di jaman dengan kemajuan teknologi
yang menyediakan berbagai macam jenis aplikasi yang bisa menjadi solusi untuk
mengatasi rasa rindu. Komunikasi yang lancar via bbm, whats app, line, viber,
skype, email dan lain-lain dapat menjadi tawaran untuk penawar rasa rindu.
- Kendala cuasa dan bahasa
Ini juga salah satu konsekuensi
yang harus siap dihadapi oleh para pelajar di luar negeri. Beradaptasi dengan
kondisi cuaca yang ekstrem terutama di musim panas dan musim dingin adalah hal
yang harus dijalani. Mempelajari bahasa yang digunakan oleh penduduk asli negara
tempat menuntut ilmu juga satu kendala yang harus dihadapi oleh setiap pelajar
di luar negeri.
- Hidup hemat
Biaya hidup di luar negeri tak bisa dibilang murah, terlebih
Indonesia memiliki mata uang yang nilai tukarnya termasuk rendah. Berburu
beasiswa bisa menjadi salah satu solusi, apalagi kini banyak lembaga yang
menawarkan program beasiswa ke luar negeri dengan syarat dan ketentuan yang
berlaku. Namun bagaimanapun juga, sebagai pelajar di luar negeri tetap dituntut
untuk cermat mengatur keuangan sendiri.
Nah, bagaimana sudah siap dengan segala konsekuensi di atas
? jika jawabannya siap maka selamat berjuang untuk mencari informasi negara yang
menjadi tujuanmu.
Gali info sebanyak-banyaknya agar tidak merugi. Kalau belum
siap, maka selamat berfikir ulang dan menyusun ulang niat dan rencanamu.
Menuntut
ilmu di luar negeri bukan lagi soal gengsi dan keren-kerenan. Ini soal kesiapan
keluar dan meninggalkan zona nyaman, berjuang dan bertahan demi masa depan. Ini
soal pilihan, karena sekali lagi hidup di negeri orang bukanlah hal mudah namun
percayalah bahwa proses ini menyenangkan.
Sekali lagi jangan tertipu dengan
foto para pelajar di luar negeri yang bisa berfoto dengan latar belakang Pyramid,
Spinx, menara Eiffel, Big ben atau tempat-tempat keren lainnya. Karena di balik
foto-foto keren itu ada banyak “riweuh” yang harus dihadapi seperti diktat
kuliah yang menumpuk dan harus dibaca, cuaca yang ekstrem luar biasa, urusan
perpanjangan visa yang prosesnya butuh kesabaran ekstra, serta rasa rindu keluarga
dan tanah air yang menerpa.
Menuntut ilmu di luar negeri tak cukup hanya bermodalkan
keinginan untuk jalan-jalan, upload foto-foto keren, atau makan-makanan yang
tak bisa ditemui di negeri sendiri. Kalau modalnya keinginan-keinginan tadi
lebih baik jadi turis saja, jangan jadi mahasiswa *ini serius!.
Itulah mengapa syarat
dan ketentuan yang harus dipenuhi oleh para peminat beasiswa ke luar negeri
cukup banyak. Belum lagi proses yang begitu panjang dan tak bisa dibilang mudah.
Semua ribet dan susahnya mengumpulkan semua persyaratan, penerjemahan berkas, menghadapi
tes tulis dan wawancara, pembuatan paspor, pengajuan visa, berburu beasiswa adalah
hal-hal yang diharapkan dapat menjadi penguat semangat para pelajar ketika
mulai goyah.
Sekali lagi dimanapun kita berada, yang namanya menuntut ilmu tak
bisa dibilang mudah, semua tentu ada cobaan dan tantangannya sendiri. Pengalaman
belajar di luar negeri bukan lagi soal keren-kerenan, ini soal beban dan amanah
yang akan ditanggung di hari kemudian. Kesempatan belajar di luar negeri adalah
sebuah pengalaman berharga yang harus disyukuri adanya.
Lalu mengapa memilih Al Azhar? Alasan pertama adalah ingin berbakti
kepada kedua orangtua dengan mewujudkan impiannya untuk memiliki anak seorang
alumni Universitas Al Azhar.
Alasan kedua adalah karena ingin menjadi seorang
pendidik yang bermanfaat bagi ummat di kemudian hari. Universitas Al Azhar
adalah institusi pendidikan Islam tertua di dunia yang menjadi kiblat
pendididikan islam serta kiprah para alumninya yang sudah tidak diragukan lagi.
Sekali lagi, ini hanya soal pilihan, pilihan yang harus
dipertanggung jawabkan di kemudian hari. Dimanapun kita menuntut ilmu hari ini
maka kita bertanggung jawab pada kemajuan bangsa hari esok. Selamat berjuang,
selamat berkarya, salam semangat wahai mahasiswa Indonesia.
Cairo, 19 Maret 2015
keren kak...
BalasHapussubhanallah :)
Sukses mbak wasilah
BalasHapus